Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Saya mengenal Polycystic Ovary Syndrome ketika di tahun 2009 saya berkonsultasi dengan dr. Ivan Sini. Awalnya karena di awal tahun itu saya mengalami pendarahan hebat yang saya kira menstruasi, tapi ternyata adalah keguguran. Waktu itu saya tidak tahu kalau hamil, saya dan suami saat itu sudah hampir 5 tahun menikah. Tentu saja perasaan saya campur aduk mendengar berita itu, karena kami sudah menunggu sekian lama. Tetapi dr. Ivan mengatakan,”The good news is, you can get pregnant on your own.” Dr. Ivan juga menganjurkan kami untuk berusaha kembali, terus terang tadinya kami berdua sudah berpikir untuk tidak punya anak.

Sekitar bulan Maret 2009, ketika dr. Ivan kembali melakukan pemeriksaan, ia bertanya apakah saya pernah mendengar tentang PCOS? Saya tidak pernah mendengar tentang PCOS sebelumnya. Walaupun di tahun pertama pernikahan, kami pernah berkonsultasi ke dua dokter kandungan dan keduanya mengatakan kalau sel telur saya banyak tapi tidak berkembang. Tetapi saya tidak tahu kalau ternyata itu adalah suatu kondisi yang ada namanya! Dr. Ivan menjelaskan tentang kondisi tersebut dan treatment apa yang ia anjurkan untuk saya.  Saya juga mencari informasi tentang PCOS dari beberapa situs untuk lebih memahami kondisi ini. Jadi apakah Polycystic Ovary Syndrome itu?

Menurut www.womenshealth.gov, PCOS adalah suatu masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi, hormon, jantung, pembuluh darah, penampilan juga kemampuan untuk memiliki anak. Perempuan dengan PCOS umumnya memiliki kadar hormon androgen yang tinggi, menstruasinya tidak teratur dan pada ovariumnya terdapat banyak kista kecil. Masalah utama kondisi ini adalah ketidakseimbangan hormon. Perempuan dengan PCOS memproduksi lebih banyak hormon androgen. Ini adalah hormon lelaki yang juga diproduksi perempuan. Tetapi jika level hormon ini tinggi pada perempuan bisa berakibat pada perkembangan sel telur pada saat ovulasi.

Beberapa peneliti juga berpendapat insulin berhubungan dengan PCOS. Insulin berfungsi sebagai hormon yang mengontrol perubahan gula, zat tepung, dan makanan lain menjadi energi untuk digunakan atau disimpan oleh tubuh. Kebanyakan perempuan dengan PCOS kadar insulinnya terlalu tinggi karena mereka memiliki masalah dalam penggunaannya. Kelebihan insulin pada tubuh ini lah yang dapat meningkatkan produksi hormon androgen. Hormon androgen yang tinggi dapat mengakibatkan beberapa hal, antara lain: jerawat, rambut pada tubuh yang berlebihan, kenaikan berat badan, juga masalah dengan ovulasi.

Hingga saat ini, memang belum ada pengobatan untuk PCOS, tetapi kondisi ini bisa ditangani khususnya bagi para perempuan yang ingin hamil. Setelah banyak mencari informasi, saya jadi tahu kalau saya tidak sendirian. Banyak perempuan dengan PCOS tetap bisa hamil, dan ini menjadi salah satu faktor saya untuk tetap berusaha.

Treatment yang diberikan dr. Ivan saat itu adalah dengan mengonsumsi pil hormon di hari ke 3-7 menstruasi serta obat diabetes (metformin) 3 x 1, kemudian melakukan pemeriksaan di hari ke 13-14 untuk dilihat perkembangan sel telurnya.  Awalnya timbul pertanyaan, mengapa obat diabetes? Padahal saya tidak menderita diabetes. Metformin umumnya digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2, tetapi banyak penelitian menemukan obat ini juga mampu membantu gejala PCOS. Metformin mempengaruhi insulin dalam mengontrol glulosa dan mengurangi produksi testoteron. Setelah penggunaan dalam beberapa bulan diharapkan dapat membantu pembuahan.

Saat kembali ke dr. Ivan untuk mengecek sel telur, terlihat sel telur saya berkembang sesuai ukuran semestinya saat masa subur. The treatment was working! Yeay! Saya disarankan untuk meneruskan treatment, jika setelah 3 bulan belum ada tanda-tanda kehamilan, dr. Ivan menawarkan opsi lain, yaitu inseminasi.

Saya juga berkonsultasi dengan dokter keluarga saya sejak kecil tentang kondisi ini, kemudian istrinya yang kebetulan dokter ahli gizi, menganjurkan saya untuk melakukan diet gula untuk mendukung treatment ini. Ia menyarankan saya untuk makan nasi merah, roti gandum, mengurangi produk makanan yang mengandung tepung-tepungan seperti mie,  es krim, biscuit, kue, cokelat, dan sejenisnya. Untuk nasi merah, roti gandum, saya tidak mengalami kesulitan karena memang sudah lebih dari lima tahun menjadi konsumsi saya sehari-hari. Tetapi saya mengalami kesulitan untuk mengurangi cake, cokelat, es krim, dan lainnya karena sangat suka manis. Awalnya memang berat sekali, tetapi setelah 2 minggu, saya sudah bisa mengontrolnya! Saya tetap makan yang manis-manis, tetapi hanya saat weekend, itu pun hanya secukupnya saja dan keinginan makan manis saya pun berkurang.

Di bulan Juni 2009, saya dan Irsan, suami saya masih mempertimbangkan saran dr. Ivan tentang inseminasi. Apakah kami harus mencobanya? Kami rencananya akan berkonsultasi dengan dr. Ivan dulu tentang hal ini, juga bertanya-tanya pada teman yang pernah melakukannya. Di pertengahan bulan Juni saya merasa tubuh berubah, setelah terlambat menstruasi lebih dari seminggu, saya lakukan tes kehamilan. Hasilnya? Lelaki kecil kami, Makaio Dakara Irsan lahir pada 15 Februari 2010. Thank you dr. Ivan, you’ve made it happened!

Dian Sarwono Irsan